‘Sudah’ Sebulan

Malam ini .. sebulan yang lalu. Seolah menjadi pautan waktu yang sudah bertahun-tahun muncul di ingatan. Ketika semua orang yang masuk dalam tim itu, berlarian dan kebingungan di dalam idenya sendiri-sendiri. Antara idealisme, subyektifitas dan dinamisme .. masih campur aduk. Kami masih baru-alasannya. Tapi memang benar.

Dua orang front man [atau lebih enak ditulis: front-men,red] yang kami jagokan datang awal. Beserta para punggawa yang masih kebingungan akan diapakan barang kami ini. Namun, sang Kapten sudah berdiri. Mengacungkan pedangnya pada pasukan infanterinya. Mau tidak mau tim ini mesti bergerak mendahului kavaleri yang menanti jalan terbuka.

Moncong meriam sudah diarahkan ke tembok benteng. Kami mesti mencoba mendekati sebelum meraba letak posisi pintu masuk. Karena jika meriam ini diledakkan, maka konsistensinya pertempuran yang akan meledak. Dan korban yang jatuh akan lebih banyak.

Bismillah!! Kami bergerak mendahului kavaleri yang menanti tanda dari kami. Bersama dengan front-men yang kami jadikan jargon pertempuran, melewati semak dan jurang menuju benteng. Sebagai tim, ada saja masalah yang mengacaukan. Belum lagi memang ini adalah pergerakan tim baru. Masing-masing mau mengedepankan kemauannya. Tapi bagaimanapun, jangan sampai moncong meriam itu meledak.

Kami menemukan pintu masuk. Pasukan kavaleri di belakang kami mengikuti. Akhirnya sang Kapten di seberang benteng merasa pasukannya-aman. Dia menembakkan moncong meriam. Kami kaget. Tapi sebetulnya tembakan itu untuk mengecoh lawan. Sementara kami, di dalam benteng berusaha mati-matian menghindari sabetan senjata lawan-untuk menuju pucuk menara benteng.

Satu anggota kavaleri menyatakan mundur ketika kami meniti tangga di dalam menara benteng. Kami tidak memiliki hak melarangnya. Kami terus meniti tangga, sementara lawan yang banyak di dalam benteng mulai mengejar kami. Kami berusaha mati-matian. Satu orang lagi terpaksa berhenti karena kelelahan. Anggota lainnya mulai bertumbangan. Karena menara itu tidak berujung. Tapi kami terus berusaha. Front-men kamipun mulai melambatkan langkah. Tapi kami terus berteriak, “LARI, ANJING!!”. Dan mereka lari.

Akhirnya perjuangan itu sampai di hari ke sekian. Yang menandai sebulan. Dan tidak terasa, makin banyak lawan yang mengejar. Makin banyak pula support dari luar benteng pada kami yang terus berjuang. Si Kapten cukup menyunggingkan senyumnya. Perjuangan ini terlepas dari kaidah baik-buruk, takkan berakhir sebelum benteng ini hancur karena derap langkah kami.

ps: dedicated to tim MTV Insomnia.

Happy & fun,
AKHMAD RENDY K
Creative


About this entry