Qur’an di Dalam Lemari

Al Qur’an itu begitu lusuh membatu di dalam lemari bajuku. Sudah setahun, dia aq tinggalkan. Tepat hari ini, aq setahun bekerja di ibukota. Sejak itu pula, aq tidak pernah lagi menyentuh al-qur’an. Meski aq masih ingat gimana greget perjuanganku biar bisa membacanya dengan lancar. Tampaknya, hal itu kini sudah terkalahkan dengan kesibukanku.

Aq benar-benar sibuk. Shalat terlantar di akhir waktu. Puasa terbuang di onggokan sampah. Zakat terlupakan di balakang zaman. Ini adalah waktu terparahku. Seolah, waktu setahun ini adalah pembuangan panjang dalam hidupku. Tidak ada kepastian. Agama menjadi nomor dua atau tiga, malah bisa jadi empat-lima-enam dan seterusnya.

Semalam menjadi malam yang mengkoreksi aq. Ada satu kejadian yang benar-benar bukan lagi menyentil. Tapi sudah menendang dan menghardikku. Bahwa, aq sudah kacau. Aq tidak beragama lagi. Seolah, aq harus mencari tempat kerja lain. Walau tempat kerjaku sekarang adalah perusahaan nasional. Tapi aq merasa tidak beres di dalamnya.

Al-Qur’an itu, mengingatkan aq bahwa, aq tidak hidup selamanya. Aq tidak hidup untuk duniawi. Tapi dunia adalah ladang pencarian saku ke akhirat kelak.


About this entry